JANGAN TUNDA LAGI!

Menunda-nunda adalah suatu hal yang selalu dilakukan manusia dalam kehidupannya. Menunda kegiatan, kewajiban, bahkan menunda yang Allah inginkan untuk kita kerjakan. Hal ini terjadi karena sudah menjadi rutinitas kita. Apa yang Allah inginkan dari kita? Allah ingin kita tidak menunda-nunda waktu lagi untuk membawa jiwa-jiwa datang kepada-Nya. Sehingga semakin banyak orang yang diselamatkan.

Namun, bagi mereka yang sering menunda waktu menyelamatkan orang lain yang menderita adalah orang yang hatinya membatu dan hatinya tidak peka lagi terhadap penderitaan orang lain. Karena rutinitas kita terkadang kita melupakan orang-orang disekitar kita yang membutuhkan kasih. Merasa bahwa kita sudah percaya dan diselamatkan hingga sampai kita melupakan orang lain.

Belajar dari Tuhan Yesus, ketika Ia berjalan bersama dengan murid-muridnya dan bertemu dengan seorang pengemis buta. Hati Tuhan tergerak dan menyadari bahwa orang ini membutuhkan pertolongan. Hati Tuhan begitu peka dan jeli serta Tuhan tahu betul bahwa orang itu sangat membutuhkan pertolongan. Disini kita dapat mengerti bahwa di balik penderitaan yang kita alami akan ada rencana untuk menyatakan kasih-Nya. Kita perlu peka terhadap sekitar, sehingga kita tidak menunda-nunda waktu lagi untuk menolong orang lain.

Sama halnya gereja tidak bisa lagi berdiam diri dalam satu titik. Ada saatnya gereja harus keluar untuk melakukan penginjilan. Tidak adanya pergerakan gereja ini dikarenakan banyaknya anak-anak Tuhan yang tersita dengan rutinitas sehingga lupa akan perintah Tuhan dalam hidup kita. Gereja tidak boleh berfokus pada memperbanyak jemaat, berfokus pada keindahan ibadah, berfokus pada program.

Gereja sudah melewatkan banyak waktu, dimulai dari sebelum pandemi covid-19 dan sampai pada pandemi meredah. Ketika kita sudah menunda penjangkauan jiwa, kita akan kehilangan kesempatan dan akan ada masa dimana semua akan rusak ketika sudah melewati waktunya. Lalu, bagaimana jika kita peka terhadap sekitar dan tidak menunda waktu? Seperti orang buta yang disembuhkan, demikian pula akan banyak orang yang dipulihkan dan orang lain bisa menyaksikan karya Tuhan pada jiwa yang diselamatkan.

Belum terlambat, mari kita keluar dari zona nyaman dan rutinitas serta melihat sekeliling. Banyak orang diluar sana yang membutuhkan pertolongan, banyak jiwa yang perlu diselamatkan. Melalui hal ini kita bisa saling berbagi kasih Kristus yang telah kita terima dan rasakan selama ini.

HIDUP UNTUK MISI

Pada tema kali ini, kita belajar dari Rasul Paulus tentang apa sebetulnya alasankita harus hidup untuk misi dan bagaimana kita harus menjalani hidup dalam misi? Dalam kekristenan misi identik dengan penganiayaan, kesusahan, penderitaan, daerah terpencil, dan dana yang besar. Sehingga banyak gereja yang mau terlibat di dalamnya.

Dalam bahasa latin, misi artinya yaitu mengutus atau pengutusan. Jadi misi itu berbicara mengenai seseorang yang diutus menyelesaikan tugas tertentu. Kita semua orang percaya inilah yang telah ditebus oleh Tuhan dan diutus ke tenga-tengah dunia untuk mengerjakan seperti tertulis pada Matius 28 : 19 “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus.

Lalu kapan Misi Amanat Agung dimulai? Gerakan misi Kristen ini dimulai lewat suatu penganiayaan, Gerakan Misi Gereja mula-mula berkembang sangat cepat mulai dari Yerusalem ke wilayah Yudea, Samaria sampai ke Roma dalam waktu singkat. Mengapa? Karena ada penganiayaan. Seperti yang dialami oleh Stefanus, yaitu martir Kristen pertama yang dirajam oleh batu sampai mati karena memberitakan injil. Sejak saat inilah terjadi penganiayaan yang berkelanjutan di Yerusalem, dimana membuat keadaan orang percaya untuk keluar ke Yudea, Samaria, ke ujung bumi untuk memberitakan injil.

Injil diberitakan melalui penganiayaan dan kesulitan bukan hanya saat di Yerusalem, namun kesulitan dan penganiayaan itu masih kita jumpai di banyak daerah. Banyak misionari, pendeta, penginjil yang mati di ladang misinya.

LALU, BAGAIMANA CARA KITA HIDUP DALAM MISI KITA SAAT INI?

  1. Hidup untuk misi sebagai penghormatan kepada Kristus, dengan hidup takut akan Tuhan.
    2.Hidup untuk misi karena kasih Kristus, sebab Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.
  2. Hidup untuk misi karena pendamaian melalui Kristus, sebab tertulis pada 2 Korintus 5 : 18 bahwa Allah telah mendamaikan kita melalui Kristus, dan ia telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kita.

4 PRAKTEK YANG BISA KITA LAKUKAN SEBAGAI UTUSAN KRISTUS

  1. Pergi ke ladang pengutusan
  2. Menyambut semua orang yang ada di sekitar kita tanpa memandang latar belakang mereka
  3. Menjadi pengajar untuk membantu orang lain menemukan panggilan misinya
    4.Memberikan dukungan kepada para misionaris, bukan hanya dana tapi kita bisa memberikan doa, perhatian, dan dukungan bagi mereka

PEDULI KESELAMATAN ORANG LAIN

Kita sebagai orang Kristen, tidak jarang kita menyembunyikan iman kita, menyembunyikan terang & garam kita, dan memendamnya untuk diri kita sendiri. Sehingga dunia tidak pernah mendengarkan lantunan kesaksian iman dan hidup orang percaya sebagaimana yang Tuhan Yesus inginkan dari kita yaitu menjadi saksi-Nya sampai akhir.
Seorang pengamat Kristen telah mengatakan bahwa 95% orang Kristen tidak pernah membawa dan memimpin orang lain kepada Kristus. Angka ini begitu fantastis ketika kita tahu bahwa hanya ada 5% orang Kristen yang mau bersaksi dan membawa orang lain menuju keselamatan. Hidup kita yang bercahaya, hidup kita yang menjadi terang inilah yang perlu kita sebarkan ke tengah-tengah orang yang masih berada dalam kegelapan. Lalu bagaimana cara kita untuk menjangkau mereka?

  1. MEMILIKI INTEGRITAS HIDUP YANG TERUJI
    Menunjukkan kehidupan kristiani kita sesuai dengan apa yang kita yakini. Kita menghidupi setiap firman-Nya. Bukan hanya sekedar belajar dan merenungkan, namun kita melaksanakan di dalam hidup. Kita hidup seperti itu bukan semata-mata supaya disukai oleh banyak orang. Tetapi kita bisa lihat, ketika hidup kita autentik dan transparan, hidup kita selaras dengan injil dan orang suka akan hal itu. Maka itu bisa dipakai Allah untuk menyenangkan hati Allah. Ketika hendak menolong orang lain, maka kita perlu memastikan diri sendiri “Apakah kita sudah dalam posisi yang benar?”. Paulus pun mengajarkan bahwa kita sudah melakukan dengan benar apa yang diajarkan oleh injil, kita sudah mengerti dan memahami apa yang kita percayai, terlebih kita menghidupinya. Sehingga kita membawa kabar injil kita tidak ditolak.
  2. MEMILIKI ORIENTASI KEPADA JIWA MANUSIA
    Dalam hal ini, Paulus mengajarkan bahwa kita harus mencintai setiap jiwa yang Tuhan percayakan dan sungguh-sungguh berfokus pada melayani Tuhan. Ia sangat merindukan dan menginginkan bahwa kehormatan Allah ditinggikan. Ia tidak pernah melayani bagi diri sendiri. Dia terus bergiat dan tekun dalam pelayanan, sehingga seluruh perilakunya menunjukkan bahwa ia hanya berfokus kepada Tuhan.

Bagaimanakah teladan Paulus dalam pelayanan yang berorientasi dan mencintai setiap jiwa yang dipercayakan Allah?

  1. Bergaul akrab dengan jemaat dan para penatua Efesus
  2. Hidup dengan kerendahan hati di hadapan mereka semua
  3. Mencucurkan air mata yang menangisi keberadaan orang yang menolak Injil
  4. Berusaha mengajarkan Injil ke pribadi lepas pribadi
  5. Melayani semua orang tanpa memandang muka

Dalam ayat ini Paulus mengingatkan kita, bahwa Allah senantiasa memberi kita kekuatan melalui Firman kasih karunia kepada setiap orang yang sungguh-sungguh melayani Tuhan dan berorientasi kepada jiwa manusia. Karena Paulus tahu, bahwa melalui Firman dan kash karunia Allah sendiri akan terus membangun para pelayan dan akan terus memampukan para pelayan atas pelayanannya sampai garis akhir.

MENGENAL ISI HATI TUHAN

Amanat Agung adalah isi hati Tuhan untuk manusia yang ada di dunia ini. Tuhan Yesus ingin supaya setiap orang percaya menjadi orang kepercayaan Tuhan untuk mewartakan kabar baik. Amanat agung adalah perintah supaya kita menjadi saksi Kristus bagi dunia ini. Mengapa amanat Agung penting ?

  1. PERINTAH TUHAN
    Perintah untuk memberitakan Injil adalah perintah Yesus yang terakhir sebelum Ia naik ke surga. Perintah ini adalah hal yang khusus ditujukan bagi mereka yang percaya kepada Yesus. Dengan demikian, semua umat Tuhan seharusnya mengerti bahwa mereka tidak dapat menghindarinya. Sebagai perintah Tuhan, ini tidak dapat ditolak atau diabaikan. Dengan demikian, amanat agung adalah perintah Tuhan. Harus dilaksanakan dan tidak boleh diabaikan.
  2. PERINTAH UNTUK SEMUA ORANG YANG PERCAYA KEPADA KRISTUS
    Amanat agung ditujukan bagi “semua bangsa”, dalam pengerti ditujukan untuk semua orang yang percaya kepada Kristus. Amanat Agung diperuntukkan bagi setiap orang, dimana saja dan kapan saja. Semua orang yang mengaku murid Tuhan harus bersedia untuk memberitakan kabar keselamatan melalui segala segi kehidupan mereka. Hidup kita harus bisa menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita dan bisa membawa orang lain kepada pengenalan akan jalan keselamatan satu-satunya. Dengan menyakini bahwa Roh Kudus senantiasa menyertai kita. Jadi, semua orang percaya mempunyai kewajiban untuk menjalankan Amanat Agung. Amanat agung dilakukan melalui kehidupan setiap hari yang kita tunjukkan bagi banyak orang.
  3. PERINTAH UNTUK MEWARTAKAN KABAR BAIK
    Injil adalah kabar baik untuk semua orang. “Eunggelion” : Berita sukacita atau kabar baik dari Allah tentang Yesus Kristus dan karya penebusan-Nya bagi dunia. Mewartakan kabar baik bukan berarti harus pandai berkotbah di depan umum. Tidaklah kebetulan jika kita dikaruniai talenta-talenta, bakat atau keahlian tertentu. Tidak pula kebetulan jika kita ditempatkan dimana kita berada hari ini. Kita seharusnya memakai itu semua sebagai sarana dan tempat untuk menjalankan amanat agung. Mengerjakan Amanat Agung Tuhan tidak harus pergi ke tempat yang jauh, di daerah terpencil, pegunungan, pelosok atau pedalaman. Kita bisa mulai dari lingkungan terdekat: keluarga, kerabat (saudara), sahabat, teman, rekan kerja/bisnis, tetangga.

ISI KABAR BAIK :
Berita tentang pengorbanan Yesus menebus dunia ini. Orang berdosa memerlukan pengampunan dosa. Pengampunan dosa hanya bisa dilakukan oleh Yesus Kristus melalui pengorban-Nya di atas kayu salib. Dia yang mati, tidak mati selamanya tetapi bangkit pada hari ke tiga dan pada akhirnya kembali ke sorga menyediakan tempat bagi setiap orang percaya. Berita inilah yang harus kita ceritakan kepada semua orang. Bagian kita adalah menceritakan, karena yang membuat seseorang percaya kepada Kristus adalah pekerjaan Roh Kudus. Semua orang harus tahu akan kabar baik ini, dan kita sudah dipilih oleh Tuhan dan diberi kehormatan untuk menceritakan kabar baik.

PENERAPAN
Isi hati Tuhan adalah jangan menyimpan kabar baik untuk diri sendiri. Kabarkan kepada semua orang yang ada disekitar kita. Kehidupan kita adalah sarana yang paling efektif untuk menyampaikan kabar baik.

BERKARYA BAGI BANGSA

Pandemi Covid-19 nampaknya belum tuntas 100%, akhir-akhir ini masih banyak kasus baru yang bermunculan, terutama di kota-kota besar Indonesia. Melalui pandemi ini banyak pihak yang dilibatkan untuk mengatasinya. Bukan hanya rakyat dan pemerintah saja, namun kemajuan teknologi juga sangat dibutuhkan beberapa tahun ini. Baik untuk pekerja maupun murid-murid yang bekerja atau sekolah dari rumah. Namun ini semua tidak boleh berhenti disini saja, kemajuan, pemulihan, dan pembangunan harus terus berkelanjutan demi masa depan bangsa yang lebih baik.

Disisi kekristenan, bagaimana Gereja memahami diri & menemukan peran karya kasihnya dalam relasi dengan pemerintah?
Pertama, Gereja berada dalam area karya Allah di bumi dimana pemerintah ada di dalamnya. Seperti yang tertulis pada Roma 13:1 : “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah”

Pada jaman dahulu, Paulus mengingatkan sekaligus menegur warga gereja untuk bersikap baik sebagai kesediaan menerima pemerintah. Dan berfokus pada dimana dan bagaimana mereka hidup sebagai cara menyatakan kehadiran Allah di antara warga lainnya.

Kedua, Gereja harus takluk , tetapi bukan menaati, secara mutlak dalam segala hal. Mengapa harus takluk? Karena ada 2 alasan, pertama yaitu alasan Teologis :

  • Sesuai dengan tradisi Israel. Raja adalah Allah sendiri
  • Otoritas atau kekuasaan yang dimiliki para pejabat itu berasal dari Allah
  • Allahlah yang menetapkan pemerintah
  • Melawan pemerintah berarti melawan ketetapan Allah

Alasan kedua yaitu alasan Pragmatis :

  • Allah berdaulat atas pemerintah dan segala kehendak baiknya
  • Pemerintah adalah hamba Allah yang berkepentingan melaksanakan kebaikan yang berkeadilan
  • Orang kristen diminta melakukan kebenaran dan keadilan dalam ritme yang sama dengan pemerintah

Orang Kristen dan Gereja harus bersuara. Tidak boleh takut bila benar. Sebab pemerintah adalah hamba. Gereja yang menghayati dirinya sebagai wujud karya Allah bagi dan di tengah dunia. Gereja harus menyapa dan bergulat bersama dengan dunia.

Jadi ada banyak cara yang bisa kita dan gereja lakukan untuk Bangsa dengan elayani dunia secara utuh melalui : Pembentukan spiritual, Layanan pendidikan, Layanan diakonia, Pemberdayaan ekonomi, Bantuan hukum, Gereja ramah anak, Gereja hijau, dan masih banyak lagi.

BERBEDA ITU INDAH

Perbedaan secara positif dapat memperkaya keberadaan sebuah komunitas, namun perbedaan juga adalah kondisi yang sangat rawan menimbulkan perselisihan dan perpecahan…. melalui jemaat Korintus kita dapat menyaksikan hal ini. Oleh karena itu perlu bagi Rasul Paulus untuk memberikan pengajaran kepada jemaat di Koirintus.

Agar terhindar dari perpecahan dan tercipta sebuah kesatuan ada beberapa sikap yang harus dikembangkan dalam diri orang percaya:

  1. Saling membutuhkan (Ayt. 21-22).
    Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial, artinya kita tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain. Dalam hal apa pun kita selalu memerlukan orang lain. Karena itu kita harus belajar menerima keberadaan orang lain dan dengan jujur mengakui bahwa sehebat apa pun kita, kita tetap membutuhkan orang lain dan bekerja sama dengan orang lain! Tak selayaknya kita memandang rendah atau meremehkan orang lain.
  2. Saling menghormati. (Ayt. 23-24).
    Setiap orang percaya harus belajar menghargai peran seluruh anggota jemaatnya dan tidak boleh membeda-bedakan! Tidak sedikit pemimpin rohani yang cenderung pilih kasih, lebih menghargai dan menghormati jemaat yang statusnya terhormat, terkenal atau kaya, namun bagaimana terhadap mereka yang berasal dari kalangan biasa dan tak mampu?
  3. Saling memperhatikan. (Ayt. 25-26).
    Suatu komunitas atau persekutuan tidak akan pernah disukai dan diminati apabila masing-masing anggota acuh tak acuh. Bila Tuhan saja memberikan perhatian dan penghargaan kepada setiap umat-Nya, maka sangatlah tidak pantas kita bersikap merendahkan dan tidak saling memperhatikan satu sama lain.
  4. Tepa Seliro (Ayt. 12:26)
    Yaitu sikap dapat menjaga perasaan orang lain dan turut merasakan. . Gambaran tubuh yang dipakai Paulus juga mengindikasikan bahwa di antara anggota tubuh sama-sama saling merasakan. Satu anggota sakit, anggota lainnya turut merasakan sakitnya.

PENUTUP
Mari kita muliakan Tuhan Allah melalui peran dan fungsi kita masing-masing sebagai satu kesatuan yang utuh sebagai anggota tubuh Kristus. Manusia tidak ada yang super power atau super bisa, manusia juga tidak super lemah atau super tidak berkemampuan. Manusia itu lengkap dengan kemampuan-kemampuannya dan lengkap dengan kelemahan-kelemahannya. Jadi, kita tidak perlu menyombongkan diri dan menganggap yang lain lebih lemah, Mengembangkan keempat sikap diatas akan menolong kita mewujudkan bahwa Berbeda Itu Indah.

MEMBERI DENGAN RELA HATI

Ketika orang yang memberi dalam keadaan berlimpah harta kekayaan banyak orang menilai itu adalah hal biasa. Tetapi memberi dalam keadaan keterbatasan, adalah suatu tindakan yang luar biasa. Alkitab menjelaskan ada 2 jenis pemberian kepada pihak lain. Pertama, pemberian kita kepada Tuhan yang kita sebut persembahan. Kedua, pemberian kita kepada sesama, itu disebut bersedekah. Persembahan kita kepada Tuhan sejatinya merupakan Tindakan iman kita dalam rangka meresponi anugerah Tuhan. Kita menyadari bahwa hidup kita dalam kedaulatan-Nya, kita dipelihara dengan sempurna karena itu kita bersyukur. Persembahan itu bukan hanya tentang uang atau harta, tapi juga waktu, tenaga, pikiran dan perasaan.

Acapkali bukankah persembahan yang berwujud itu sulit untuk kita berikan? Namun, persembahan tidak cukup hanya kita wakilkan melalui uang. Melainkan haruslah keseluruhan hidup kita sebagai wujud ibadah yang sejati. Itulah symbol penyerahan hidup kita yang mengandalkan Tuhan. Artinya hidup kita tidak bergantung kepada harta benda duniawi yang kita persembahankan itu, tetapi kepada Tuhan yang memelihara, melindungi, dan menjamin hidup kita melebihi jaminan apapun di dunia ini.

2 Korintus 9 : 6 mengatakan bahwa hendaknya masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya. Memberi dengan rela hati, berarti hati tidak melekat kepada pemberian kita dan tidak berat hati. Semua yang ada pada diri kita ini sesungguhnya bukan milik kita, sehingga sudah selayaknya jika kita rela melepaskan apa yang bukan menjadi hak milik kit aitu dengan rela hati. Kita bukan pemilik, kita hanya pengelola. Jadi kalua kita memberi persembahan itu kepada Tuhan, itu artinya kita mengembalikan kepada yang punya hak milik. Karena itu persembahkanlah dengan rasa syukur, rela hati, dan sukacita.

Kita tidak akan lebih miskin Ketika kita memberi persembahan, termasuk persembahan persepuluhan. Namun, tetap saja persembahan itu tidak ada yang sempurna sampai dipenuhi Kristus melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib. Persembahan Kristus itu telah menebus kita, menjadikan kita sebagai milikNya. Sehingga seharusnya yang patut kita berikan kepada Tuhan adalah utuh seluruhnya, bukan sepersepuluh dari milik kita. Tetapi Tuhan mengerti kebutuhan kita. Karena itu 1/10 itu sesungguhnya adalah jumlah minimal yg kita berikan pada Tuhan. Karena itu jangan berat hati untuk memberikannya. Sebab apa yg kita berikan kepada Tuhan itu tidak akan hilang. Bapa yang kaya itu akan mencukupkan bahkan melimpahkan rejeki bagi kita anak-anak-Nya.

BERANI MELAWAN KELALIMAN

Hidup ditengah-tengah dunia yang keras ini harus mempunyai prinsip hidup yang sesuai dengan Firman Tuhan, karena jika kita tidak bisa melawan arus dunia yang jahat ini,maka kita akan menjadi orang-orang yang terbawa didalamnya dan hidup kita tidak ada bedanya dengan mereka yang belum mengenal kebenaran Allah. Cara yang bisa kita lakukan untuk melawan kelaliman adalah :

  1. Mengatakan yang sebenarnya / Berkata jujur – Jika “ya” katakan “ya”, jika tidak katakan “tidak”. Kalimat ini hendak mengajarkan kepada kita bahwa harus mengatakan yang sebenarnya, tidak boleh ditambah dan juga tidak boleh dikurangi. Karena selebihnya berasal dari si jahat. Kalimat ini ada di Matius 5, di bagian yang sangat terkenal, yang disebut “Khotbah di Bukit”. Dalam Khotbah di Bukit ada beberapa topik berbeda; ada ucapan bahagia, hal mengenai berdoa, berpuasa, dsb. Masalah kejujuran ditaruh di antara pembahasan mengenai pembunuhan (masalah marah itu membunuh), perzinahan (masalah melihat dan mengingini itu sudah berzinah), perceraian, dan kekerasan (masalah pembalasan, mata ganti mata, gigi ganti gigi) karena Tuhan Yesus menganggap bahwa semua itu sama levelnya dengan “ya katakan ya dan tidak katakan tidak.” Kejujuran berkaitan erat dengan kemampuan untuk mengatakan sesuatu yang benar. Benar dalam arti apa yang diungkapkan sesuai dengan realitas atau apa yang ada dalam realitas itulah yang diungkapkan melalui pernyataan. Disebut tidak jujur karena apa yang dikatakannya tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya.
  2. Berani mengambil resiko – Mengatakan yang jujur itu ada resikonya, baik resiko ringan sampai yang berat. Setiap orang yang berkata jujur harus berani menghadapi resiko karena semua itu menunjukkan akan kesungguhannya di dalam mengatakan kenyataan yang dialaminya. Kenyataan hari ini adalah ada banyak orang yang sudah biasa dengan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan perintah Tuhan. Salah satu contohnya adalah kejujuran. Ada banyak orang yang merasa tidak jujur atau berbohong itu adalah hal yang biasa. Ada orang melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang tetapi dianggap biasa. Bagi kita orang yang sudah diselamatkan oleh Kristus, harus mempunyai sikap yang berbeda dengan mereka yang belum mengenal kebenaran. Sikap ini adalah sikap yang berdasarkan Firman Tuhan. Kejujuran tak hanya menunjukkan ketulusan hati, tetapi juga sikap yang menghormati orang lain dan berani mengambil resiko. Ketika seseorang berdusta, ia sebenarnya sedang menghina Tuhan Yang Maha Tahu. Ketika diperhadapkan pada pilihan untuk jujur atau tidak, ingatlah bahwa kita tidak saja sedang berurusan dengan manusia, tetapi juga dengan Tuhan. Manusia memang tidak serba tahu, tetapi Tuhan tahu apakah kita sedang menghormati-Nya atau tidak. Berani jujur berarti berani berhadapan dengan resiko apapun. Apapun tantangannya kita harus berbuat jujur.

DIPANGGIL UNTUK MELAYANI

Pada Matius 4 : 19 tertulis, Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Pada ayat ini tertulis jelas bahwa setiap kita memiliki panggilan untuk melayani. Melayani merupakan panggilan pribadi untuk mengerjakan hal yang lebih mulia, dengan tujuan utama untuk menyelamatkan manusia berdosa . Pribadi dalam konteks ini artinya, kita telah menerima perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Untuk kata “lebih mulia” ini dicontohkan pada pengalaman Petrus, ketika ia diperintahkan Tuhan untuk menebar jala supaya mendapat ikan yang banyak lalu Tuhan berfirman kepadanya bahwa Petrus akan dijadikan penjala manusia. Dari yang awalnya pekerjaannya menjala ikan, ia akan diutus untuk menjala manusia. Yang tentunya manusia “lebih mulia” dibanding dengan ikan.

Sebetulnya tujuan utama melayani yaitu Menyelamatkan yang Berdosa. Apa pun jabatan seseorang, apakah gembala sidang, pemberita Injil, utusan gerejawi, pengarang, guru, diaken atau orang awam, apabila ia tidak betul-betul berusaha menuntun orang kepada Kristus, maka ia tidak melakukan tugasnya bagi Allah. Sama seperti Tuhan Yesus yang terlebih dulu melayani kita, dengan mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus kita manusia berdosa. Dalam menerima panggilan ada 3 hal yang perlu kita perhatikan dan miliki, yaitu :

  1. Menyadari ketidakmampuan dan ketidaklayakan
  2. Ketaatan
  3. Memiliki Prioritas. Berarti ada karakter khusus yang harus kita tinggalkan, ego yang menghalangi Kristus menempati posisi utama dalam hidup kita, atau kesenangan-kesenangan tertentu yang membuat Kristus tidak menjadi yang terutama dalam hati. Ada yang harus di lepas untuk mengikuti Yesus .

Panggilan pelayanan artinya kita berserah akan proses dan hasil seluruhnya di dalam Tuhan. Tuhan yang memanggil untuk melayani , adalah Tuhan yang menyertai dalam semua prosesnya, dan yang menyelesaikan dan menggenapi panggilan-Nya . Kita melayani karena Dia terlebih dahulu melayani dan mengasihi kita, bahkan menyerahkan nyawaNya bagi kita.

MELAYANI TUHAN DENGAN TULUS

Melayani Tuhan itu banyak sekali macamnya. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk melayani-Nya. Pada dasarnya tujuan kita melayani adalah untuk menyenangkan yang dilayani. Namun jika dilihat dari segi kekristenan, kita sebagai pelayan Tuhan di gereja. Kita tidak hanya melayani Tuhan saja, namun kita juga melayani jemaat yang datang ke gereja. Sehingga jemaat yang datang merasa senang dan nyaman.

Jadi dalam gereja, kata pelayanan sudah bukan hal yang asing lagi. Lalu bagaimana kita yang tidak ambil bagian dalam hal-hal diatas? Apakah kita bisa disebut melayani? Tentu saja iya, seperti ketika datang ke gereja dan patuh dalam ibadah itu sama saja dengan melayani Tuhan. Meskipun dalam alkitab dikatakan bahwa kita tidak boleh melakukan pekerjaan apapun, namun kita sebagai pelayan Tuhan itu adalah hal yang baik.

Ketika muncul pertanyaan, orang Kristen melayani Tuhan siapa? Tuhan yang mana? Allah Tritunggal yaitu, Allah Bapa, Allah Putra, Allah Roh Kudus. Ketiganya yang Esa inilah yang kita layani. Seperti yang selalu kita ikrarkan pada pengakuan iman rasuli pada kalimat “Yesus Kristus, Tuhan kita”. Kita hamba/ budaknya dan Tuhan Yesuslah Tuannya. Mengapa kita disebut budak? Karena kita sudah menjual diri kepada dosa. Lalu, Tuhan Yesus telah membeli kita dengan darah-Nya yang mulia dan berharga.

Kita semua ini adalah budak-budak yang sudah dimerdekakan dari dosa. Tuhan sudah pegang kendali penuh atas hidup kita. Seperti pada Yohanes 13 Yesus berkata, bahwa barangsiapa yang percaya kepada-Ku maka kamu sudah dimerdekakan dan sudah tidak menjadi lagi budak dosa melainkan menjadi Utusan Allah. Karena kita sudah menjadi Utusan Allah, maka kita patut melayani dengan sukacita dan bangga bahwa kita adalah duta-duta Kristus. Bangga mencari jiwa, bangga menjangkau, bangga memberitakan injil. Duta-duta Kristus itu berarti kita selalu dijaga dimanapun, samapi kapanpun, dan tidak akan pernah terlepas dari Dia.