Hidup adalah Misi

Ketika Tuhan menciptakan manusia pertama , memberikan misi kepada manusia. Misi rsebut dapat dibaca di dalam  Kejadian 1:28. Allah memberikan misi kepada manusia untuk memenuhi bumi dan menaklukkannya .

Namun hal yang buruk terjadi, Adam dan Hawa dicobai dan gaga I sehingga mereka jatuh ke dalam dosa yang mengakibatkan semua keturunannya juga jatuh ke dalam dosa. Misi untuk memenuhi bumi dan menaklukkannya tetap ada tetapi untuk melakukan hal tersebut ada misi khusus lain yang Allah persiapkan. Misi tersebut dapat dilihat dalam 2 Korintus 5:11-21.

Tuhan Yesus melakukan misi-Nya dengan berkorban di atas kayu salib.Ia mati untuk “semua orang” seperti yang tertulis di ayat ke 14. Apa arti semua orang di dalam ayat ini? Apakah ini berarti Yesus mati untuk semua umat manusia? Jika itu benar maka itu adalah paham universalisme yaitu semua orang akan selamat dan masuk ke dalam surga. Namun semua orang di sini maksudnya adalah orang-orang Yahudi dan non Yahudi yang percaya kepada Tuhan Yesus. Di dalam ayat ke-15, tujuan Kristus mati adalah supaya orang percaya tidak hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk dia. Hidup yang baru ini bukan untuk mencari keuntungan diri sendiri atau mencari ketenaran dan keberuntungan. Kehidupan yang baru adalah kehidupan untuk Kristus yang berkorban untuk orang lain. Jadi bisa disimpulkan bahwa kehidupan yang baru ini adalah kehidupan untuk orang lain.

Di dalam ayat ke-18 dinyatakan misi Allah bagi orang-orang percaya yaitu menjadi pelayan pendamaian. Manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa adalah musuh Allah dan untuk itu mereka harus didamaikan dengan Tuhan. Allah ingin mendamaikan manusia berdosa dengan dirinya dengan tidak memperhitungkan pelanggaran dosa mereka (ayat 19). Berita pendamaian itu telah dipercayakan kepada orang-orang percaya. Sekarang kita menjadi duta-duta Kristus.

Kata “utusan” atau “duta” di dalam ayat 19 diterjemahkan ke dalam bahasaInggris menjadi ambassadors atau duta besar. Duta besar adalah seorang diplomat yang merepresentasikan sebuah negara di negara lain. Mereka memiliki hak khusus dan mempunyai misi khusus. Salah satu misi diplomatik dari seorang duta besar adalah mengusahakan perdamaian antar kedua negara. Jadi kalau kita adalah duta-duta Kristus berarti kita mengemban misi Kristus untuk mendamaikan manusia berdosa dengan Allah. Misi pendamaian ini jelas ditekankan oleh Paulus karena kata damai ditulis sampai lima kali di dalam ayat 18 sampai ke-20.

Misi pendamaian Kristus haruslah menjadi misi kita juga karena kematian Kristus adalah supaya kita tidak hidup untuk diri kita sendiri tetapi untuk Kristus. Karena misi Kristus adalah untuk mendamaikan  Allah  dengan  manusia  maka  misi orang  percaya, yang  sudah  ditebus  dan didamaikan oleh Kristus adalah sama dengan misi Kristus untuk mendamaikan orang berdosa dengan Tuhan. Kalau Kristus peduli akan keselamatan orang berdosa, maka kita juga  harus peduli akan keselamatan rekan-rekan kita, apakah itu saudara-saudara kita, teman-teman kita, rekan kerja kita. Sampaikanlah berita pendamaian itu kepada orang-orang di sekitar kita karena kita adalah duta-duta Kristus.

LADANG SUDAH MENGUNING

Setiap orang yang percaya kepada Kristus mempunyai tugas dan tanggungjawab yang sama yaitu memberitakan kabar baik /Injil kepada semua orang. Ini adalah perintah Tuhan Yesus yang harus dikerjakan. Supaya kita mempunyai keberanian untuk bertekad memberikan kabar baik maka sedikitnya ada dua hal yang harus dilakukan :

  1. Punya Hati Mengasihi Jiwa-jiwa (ay. 2)
    Banyak orang beranggapan bahwa tugas memberitakan kabar baik adalah tugas segolongan orang yang “ahli”. Dalam pengertian bahwa orang-orang tersebut sudah diperlengkapi dengan berbagai pengetahuan dan dididik secara khusus. Tetapi para murid Yesus, yang sebagian besar tidak terpelajar diutus Tuhan untuk mewartakan Injil Kerajaan Allah. Mereka tidak disuruh sekolah teologi terlebi dahulu tetapi mereka langsung diajak Yesus untuk pelayanan. Tindakan Yesus ini memberikan suatu pelajaran penting buat kita yaitu bahwa: pelayanan tidak dibatasi hanya untuk kalangan para ahli seperti para pendeta saja, majelis saja, atau segelintir orang saja. Tiap orang yang menjadi pengikut-Nya dipanggil-Nya untuk menjadi utusan-Nya. Semua orang yang sungguh beriman adalah umat Allah yang adalah warga Kerajaan Allah. Kita semua berkehormatan untuk ikut serta mewartakan Injil Kerajaan Allah kepada dunia ini.Tujuh puluh orang yang diutus oleh Tuhan bukanlah termasuk di dalam kelompok dua belas murid, tetapi merekaadalah orang-orang yang sudah mengenal Yesus, tahu tentang pelayanan Yesus dan mengalami sendiri kuasa Tuhan. Pernayataan Yesus “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” ingin memberitahukan kepada kita bahwa ladang Tuhan membutuhkan banyak pekerja; dan kebutuhan tentang pekerja ini adalah kebutuhan yang sangat mendesak. Setiap orang percaya diharapkan merespons panggilan Tuhan ini. Waktu untuk melayani Tuhan dan menjangkau jiwa-jiwa bukanlah esok, lusa, minggu depan, bulan depan atau tahun depan, tetapi sekarang ini juga! Jangan pernah menunda-nunda waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan. Jadi tugas melayani jiwa-jiwa dan memberitakan Injil itu tak sepenuhnya menjadi tanggung jawab para gembala atau penginjil, tapi setiap kita harus turut ambil bagian. Adakah kita punya hati mengasihi jiwa-jiwa yang ada di sekitar kita ?
  2. Bergantung Sepenuhnya kepada Tuhan (ay. 3-10).
    Peringatan tentang adanya masalah, ujian dan tantangan ini sudah disampaikan Tuhan Yesus ketika Ia hendak mengutus 70 murid-Nya yang lain untuk memberitakan Injil, bahwa mereka diutus seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Artinya tugas memberitakan Injil di tengah-tengah dunia ini bukanlah pekerjaan yang mudah karena akan ada banyak sekali tekanan, penolakan, penderitaan dan bahkan aniaya. Untuk itu satu-satunya yang harus dilakukan adalah bersandar sepenuhnya hanya kepada Tuhan saja yang telah mengutus kita.

MEMPERJUANGKAN KESETARAAN

Seorang ibu rela berjuang untuk menyelamatkan nyawa anaknya. Apapun akan dilakukannya demi anaknya yang dikasihinya. Sekalipun mungkin dia harus dihina dan sebagainya, dia rela, asal anaknya bisa selamat dari kematian. Apakah Anda pernah mengalaminya? Atau coba bayangkan kalau Anda dalam posisi demikian. Apakah Anda akan melakukan hal yang sama? Dalam kisah ini kita melihat seorang ibu yang sedang berjuang untuk menyelamatkan anaknya yang kerasukan setan. Situasi yang tidak dapat diatasinya sendiri! Ketika dia mendengar Yesus datang ke daerahnya, maka dia langsung pergi menjumpai Yesus.

  1. Karya Tuhan tidak terbatas pada golongan atau saat tertentu
    Dalam kisah ini, seorang wanita menemui Yesus di dalam rumah. Dia tersungkur di depan kaki Yesus dan memohon pertolongan-Nya. Hal ini ternyata menyalahi beberapa aturan yang berlaku saat itu, yaitu: 1) Orang Yahudi dilarang memasuki rumah orang non Yahudi. 2) Wanita (apalagi) non Yahudi dilarang bertemu di dalam rumah dengan orang Yahudi laki-laki, khususnya dalam posisi yang dekat. Wanita ini berani melanggar semua aturan itu, entah dia tahu atau tidak, demi keselamatan putrinya. Memang bangsa Yahudi dulu baru ke bangsa lainnya, tetapi karya Tuhan juga akan diberikan kepada bangsa non Yahudi. Jadi sebenarnya, ketika wanita ini minta Yesus menolongnya, dia sudah pada jalur yang benar. Yesus sebenarnya ingin melihat iman dari wanita itu, apakah dia sungguh percaya atau tidak. Jadi, Yesus berkarya juga terhadap bangsa non Yahudi.
    Karya Allah tidak terbatas hanya pada golongan atau daerah tertentu, tetapi melampaui batasan-batasan. Yesus datang ke dalam dunia untuk menebus umat manusia dari dosa, bukan cuma bangsa Yahudi (Roma 1:16) tetapi bagi seluruh umat manusia. Karya Yesus juga tidak terbatas pada waktu itu saja, tetapi terus berlangsung sampai Dia datang kedua kalinya. Jangan kita terjebak dengan batasan-batasan yang ada seperti waktu itu: non-Yahudi, najis, dan lain-lain. Semuanya sudah disingkirkan melalui karya Yesus Kristus di atas kayu salib! Karya-Nya tidak terbatas pada golongan atau daerah atau waktu tertentu, tetapi berlaku bagi semua yang mau datang kepada-Nya.
  2. Iman mengatasi kesulitan
    Kita melihat kembali kepada wanita yang berjuang dengan luar biasa ini. Kesulitan yang dihadapinya saat itu bukanlah perkara yang ringan. Putrinya sedang sekarat karena kerasukan setan. Dia sendiri sebagai wanita non Yahudi sebenarnya dilarang datang dan memohon pertolongan kepada Yesus. Tetapi mengapa dia tetap nekad datang kepada Yesus? Ketika dia datang kepada Yesus, dia sedang menunjukkan beberapa hal yang dapat kita pelajari yaitu: rendah hati, mengakui keterbatasan diri dan kedaulatan Yesus, serta menyatakan iman yang luar biasa. Yesus tidak melihat wanita ini dari golongan atau ras apa, tetapi apakah dia memiliki iman kepada-Nya! Permohonannya dikabulkan Yesus dan putrinya sembuh! Wanita itu datang dengan berbagai halangan di depannya, tetapi dia tetap teguh dalam pengharapannya kepada Yesus, dengan sikap yang berkenan di hadapan Tuhan, akhirnya dia menerima apa yang diharapkannya.
    Ketika kita datang dan memohon pertolongan-Nya, apakah kita sungguh beriman dan mengandalkan Yesus Kristus saja? Apakah kita mengakui bahwa Yesus Kristus berdaulat dan berkuasa penuh atas segala sesuatu? Halangan apa yang masih ada di depan atau di dalam kita? Dosa tertentu? Pemahaman atau peraturan tertentu? Jangan terjebak di dalamnya! Datanglah kepada Yesus dengan menaruh seluruh pengharapanmu hanya kepada-Nya! Yakinlah bahwa hanya DIA yang sanggup menolongmu tanpa pamrih! Kalau kesulitan atau masalah yang sedang menimpamu saat ini membuatmu tidak sanggup mengatasinya sendiri, maka inilah saat yang tepat untuk datang dan memohon pertolongan kepada Yesus Kristus! Karya-Nya diberikan kepada seluruh umat manusia yang mau percaya kepada-Nya – tidak terbatas pada golongan, daerah atau waktu tertentu! Terimalah dengan iman yang teguh untuk mengalami jawaban-Nya secara pribadi! Amin!

HAK DAN TANGGUNGJAWAB

Dalam perikop yang kita baca Rasul Petrus mengirimkan pesan dan nasehat kepada orang­ orang Kristen di Asia Kecil dan sekitamya untuk mereka memperhatikan hidup mereka. Orang-orang Kristen diingatkan bahwa mereka mereka telah menerima Hak dalam karya Tuhan dalam hidup mereka yaitu ditebus dari cara hidup yang sia-sia (1 Pet 1:18) Mereka ditebus bukan dengan barang yang tetapi dengan darah Kristus yang mahal. (1 Pet 1: 19), sehingga mereka juga memiliki kewajiban dalm hidup barn mereka.

  1. Memelihara kekudusan hidup (ay.11).
    Mengapa mesti hidup kudus?
  • Tuhan yang kudus yang memanggil mereka itu memberikan perintah: Kuduslah kami, sebab Aku kudus. ( 1Pet 1:15)Tuhan yang kudus tidak mungkin bisa bersatu dengan sesuatu yang najis.
  • Hidup kudus bukanlah sebuah anjuran itu adalah sebuah akibat nyata bagi orang yang beriman. Sebelumnya Petrus mengingatkan mereka, bahwa dahulu mereka bukan umat Allah, sekarang telah menjadi umatNya, dahulu tidak dikasihi tetapi sekarang beroleh belas kasihan (1 Pet 2: 10)
  • Dengan menjalankan kehidupan yang kudus, pada akhimya orang-orang Kristen akan memuliakan Allah. (1 Pet 2:12).
  1. Hidup dalam kasih (ay.17)
    Seperti apa hidup dalam Kasih itu? Mereka difitnah tapi diajarkan untuk memiliki cara hidup yang baik yaitu mengampuni, mengasihi dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Ketidakbermoralan, dan bahkan incest, karena adanya pertemuan mereka yang disebut Pesta Kasih. Merusak rumah tangga, karena sering rumah tangga pecah karena sebagian menjadi Kristen dan sebagian tidak. Tidak setia kepada kaisar, karena mereka tidak mau menyembah kaisar atau kaisar sebagai Tuhan. Petrus menjelaskan bahwa dengan hidup dalam kasih, maka pada akhimya akan menjadi sebuah penangkal atas fitnahan dan yang kelak akan mendatangkan kemuliaan Allah.
  2. Menjadi warga negara yang baik (ay.13-14)
    Alasan orang Kristen tunduk pada pemerintah adalah karena Tuhan memerintahkan pada mereka untuk tunduk kepada pemerintah yang ditetapkan olehNya. Ketundukan itu bukan karena tertekan seperti rasa takut terhadap hukuman; tetapi demi Tuhan.” Inilah motivasi perilaku yang benar di hadapan Allah. Karena ketaatan kepada pemerintah itu hams dilakukan karena Allah, maka jelas bahwa perintah yang bertentangan dengan Firman Tuhan patut kita abaikan. Sebagaimana yang Petrus katakana bahwa kita hams lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia atau pemerintah

PENUTUP
Panggilan orang percaya adalah untuk menjadi Garam dan Terang dimanapun mereka berada. Seorang hamba Tuhan bemanma Gerald Robison mengatakan ” Diselamatkan dari sangat berbeda dengan diselamatkan untuk sesuatu,,, Keselamatan bukan hanya tentang kita terhindar dari Penghukuman Kekal, melainkan juga tentang kita hidup untuk memancarkan dan mengungkapkan kemuliaan Allah”. Lakukanlah Hak dan Kewajiban kita dengan seimbang dimanapun kita berada saat sehingga fungsi kita sebagai Garam dan Terang akan nampak sehingga melaluinya nama Tuhan dipermuliakan. SOLI DEO GLORIA

APAKAH ORANG KRISTEN HARUS TAAT HUKUM?

Berbicara tentang hukum, apa yang manusia pikirkan ketika mendengar kata hukum? Ada beberapa pandangan manusia tentang hukum, yaitu: 1) Sesuatu yang paling menyeramkan; 2) Membayangkan tentang bagaimana cara hukum itu akan menghukum seseorang; 3) Hukuman mati, hukuman penjara; 4) Hukum ada untuk dilanggar. Manusia cenderung memandang hukum dari sisi negatif. Lalu bagaimana dengan hukum Allah? Kita juga memandang tentang hukum Allah dari sudut pandang negatif. Dalam perikop Firman Tuhan ini kita berjumpa dengan hukumnya Allah.

Ketika bangsa Israel keluar dari tanah mesir, sebelum mereka masuk ke tanah perjanjian itu, Allah sudah membuat sejumlah hukum untuk mereka. Musa memaparkan perintah Allah (Keluaran 20), jadi Allah memang memberikan hukum kepada umat-Nya. Hukum adalah perintah Allah, aturan Allah, bimbingan Allah dan teguran Allah dari sisi yang berbeda. Allah memberikan hukum-Nya sebagai ungkapan kasih-Nya bagi manusia, yang telah ditebusnya. Ketika Allah memberikan hukum-Nya, sejumlah aturan kepada kita, maka tujuan Allah adalah sesuatu yang baik. Mengapa? Natur manusia sudah berdosa, kalau kita diberikan kebebasan tanpa hukum, kita akan cenderung tidak menurut dan hidup semaunya sendiri. Oleh karena itu Allah mengarahkan, memberikan perintah dan sejumlah nasehat kepada kita.

Ada beberapa hal yang Yakobus sampaikan tentang hukum Allah:

  • Ayat 11: Jangan berzinah, ini perintah Allah. Tujuan Allah memberikan perintah ini adalah supaya orang yang menikah, suami, istri dan anak-anak hidupnya bahagia (tidak ada perselingkuhan). Jangan kita melihat hukum Allah secara negatif, hukum itu lahir dari hati Allah. Allah kita adalah Allah yang kudus, benar, maka ketika Dia memberikan suatu nasihat, perintah, aturan dalam hidup kita, itu pasti benar dan kudus. Tujuan Allah supaya hidup kita kudus dan menjadi serupa dengan Kristus. Firman Tuhan adalah sapaan Tuhan, pesan yang mengingatkan kita dalam perjalanan hidup. Allah memiliki sesuatu yang lebih baik dari apa yang kita pikirkan tentang hidup ini.
  • Ayat 1: Orang-orang pada zaman Yakobus melakukan pembedaan sikap terhadap jemaat yang satu kepada jemaat yang lain, ada yang lebih diutamakan (antara kaya dan miskin). Yakobus mengingatkan jangan seperti itu, Allah menciptakan manusia itu sama. Lihatlah sesama manusia itu sebagaimana dia adanya, menghargai, mengasihi dan menghormati keberadaan sesama manusia.

Perkataan Yakobus ini berakar dari perkataan Tuhan Yesus: Kasihilah Tuhan Allahmu… dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: kasihilah sesamamu manusia (Matius 22:35-39). Ketika kita mengatakan mengasihi Allah, maka kita wujudkan dalam seluruh aspek kehidupan, mengasihi sesama manusia, juga termasuk negara kita. Rasul Paulus dalam Roma 13 juga mengingatkan kita bahwa orang kristen yang mengasihi Allah, juga mengasihi suatu kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, sebab kita adalah bagian dari negara. Hukum ini untuk kebaikan karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikan kita bersama. Sebagai warga negara Indonesia mari kita menghormati hukum yang ada dalam negara ini dengan cara: 1) Kita mendukung upaya pemerintah dalam membangun negara kita ini (Roma 13:4); 2) Mendatangkan kesejahteraan bagi bangsa (Yeremia 29:7). Kesejahteraan bangsa adalah kesejahteraan kita. Di manapun kita berada, kita mendatangkan syalom, mendatangkan kebaikan.

BEBAS ADA BATASNYA

Anarkhisme sudah dikenal di dunia sejak abad ke 17, bahkan mungkin jauh sebelum itu. Menurut para penganut anarkhisme; manusia baru bisa benar-benar merdeka, bebas jika mereka tidak terikat dan tunduk kepada otoritas apapun di muka bumi ini. Mereka beralasan manusia sudah bisa mengatur kehidupannya sendiri. Jika hal itu kita hubungan dengan kehendak bebas yang dimiliki manusia; bukankah kehendak bebas manusia yang tidak ditundukkan kepada kehendak Allah akan melahirkan anarkhi? Kenyataannya, pelaku anarkhi seringkali gelap mata; tidak takut berbuat dosa.

Pada titik inilah Rasul Paulus mengingatkan jemaat Roma dan kita. Dalam kehendak bebasnya—manusia pernah tergelincir jatuh ke dalam dosa (Kej.3). Tidak bisa membebaskan dirinya dari kuasa dosa itu, jika tidak mendapatkan pertolongan Kristus. Mereka yang percaya kepada Kristus dibebaskan dari cengkraman kuasa dosa. Tetapi kebebasannya itu tidak dimaksudkan agar ia hidup bebas tanpa batas—sebab kebebasannya itu justru dimaksudkan agar orang Kristen menjalani kehidupan baru sebagai hamba kebenaran atau hamba Allah (ayat 18 & 22).

Itulah makna dari kebebasan atau kemerdekaan kita sebagai orang Kristen. Kita dimerdekakan dari ancaman kematian yang kekal–sebab iman kita kpd Kristus. Tetapi janganlah kita mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk berbuat dosa lagi (Galatia 5:13). Artinya kalau hidup kita masih senang berbuat dosa—jangan-jangan kita belum mengalami Kristus yang sesungguhnya.

Dalam spiritualitas itu tidak ada netralitas. Artinya dalam hidup ini sesungguhnya tidak ada kebebasan yang mutlak. Tuhan Yesus sendiri berfirman bahwa seseorang itu tidak bisa mengabdi kepada 2 tuan yaitu mengabdi kepada mamon atau kepada Allah (Mat.6:24). Harus ada pilihan dan itu mengandung konsekuensi berbeda. Dengan demikian kebebasan kita di dalam Kristus itu adalah kebebasan yang harus dipertanggung jawabkan terutama dalam kehidupan yang harus mengejar dan mengenakan kebenaran, sebab kita adalah hamba Kebenaran (ayat 18). Kebenaran itu mengacu kepada kebenaran Allah sendiri. Allah-lah sumber kebenaran yang sejati. Dan kebenaran itu juga mengacu kepada Kristus sebab Kristus adalah Sang Kebenaran. Yoh14:6, mengatakan “Äkulah Jalan, Kebenaran dan hidup”. Jadi setiap kita yang percaya kepada Kristus memperoleh kebenaran di dalam Kristus dan dibebaskan dari ancaman kuasa dosa yaitu kematian yang kekal. Inilah esesnsi kebebasan yang sejati.

Saudara, jika kita berpihak kepada Allah sebagai tuan atas hidup kita. Maka kita meyakini bahwa Allah itu mencintai kehidupan. Bahkan untuk merawat dan memelihara ciptaan-Nya–IA mengaruniakan Yesus bagi dunia agar dunia diselamatkan. Maka segala bentuk yang mengancam kehidupan ini patut kita hindari; termasuk kebebasan yang tidak bertanggung jawab. Dan saat ini kita sedang menghadapi pandemi covid-19 yang mengancam kehidupan, karena itu mari kita berjuang untuk menghadirkan pemeliharaan Tuhan itu kepada sesma sebagai bukti kasih dan kebebasan kita yang bertanggung jawab! Melalui kepatuhan kita terhadap protokol kesehatan, melalui kepedulian kita membantu terhadap sesama yang terdampak pandemi ini. Salam sehat, tetap semangat. Tuhan memberkati. Amin.

MENUMBUHKAN RASA NASIONALISME

Melihat kondisi bangsa Indonesia yang porak poranda, secara tidak langsung dan tanpa kita sadari kita dijajah dengan teknologi, budaya, ekonomi, yang mengakibatkan banyak orang kehilangan rasa nasionalismenya terhadap bangsa. Bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen dalam menumbuhkan rasa nasionalisme terhadap bangsa dan negara? Kita akan belajar dari Yeremia 29:1-7

Di dalam Yeremia 29:4-7 Tuhan mengarahkan bangsa Israel yang berada di dalam pembuangan untuk hidup secara normal. Diayat 7 secara khusus Tuhan memerintahkan mereka untuk mengusahakan kesejahteraan kota yang menjadi fokus perenungan kita. Ada dua kata perintah yang terdapat dalam bagian ini, yang pertama adalah kata usahankanlah (7a) dan kedua yaitu apa yang harus dicari yaitu shalom yang artinya damai, tentram, sentosa. Shalom atau kesejateraan hanya bisa didapat dengan berusaha tentu dengan kesungguhan hati.

Lalu bagaimana kita bisa mengusahakan kesejahteraan kota atau suatu tempat yang adalah bukan kepunyaan kita tetapi kepunyaan musuh? Dari Yeremia 29: 7 apa yang dapat kita pelajari tentang menumbuhkan rasa nasionalisme? Kita tahu bahwa Nasionalisme adalah ajaran tetang cinta tanah air terhadap bangsa dan negara. Untuk menumbuhkan rasa nasionalisme :

  1. Mengusahakan atau menciptakan shalom/ kesejahteraan kota atau bangsa. Terciptanya kesejahteraan kota atau suatu bangsa adalah salah satu bukti rasa cinta terhadap bangsa dan negara.
  2. Berdoa bagi kesejahteraan bangsa dan negara. Dengan mendoakan kesejahteraan bangsa dan negara maka kita semua juga akan damai senjahtera dan Sentosa.

Kita dapat belajar bagaimana untuk menumbuhkan rasa nasionalisme kita kepada bangsa Indonesia yaitu dengan menciptakan shalom, dami sejahtera, ketentraman bangsa. Dengan cara apa? Jika melihat konteks pandemi sekarang, pertama dengan cara tidak menyebar berita-berita hoax yang memicu keributan. Kedua ikut mematuhi peraturan pemerintah, kita melihat corona semakin meningkat karena sebagian masyarakat tidak patuh terhadap anjuran dan protokol pemerintah. Ketiga dengan mengupload konten-konten positif yang membangun di sosial media.

Kedua untuk menumbuhkan rasa nasionaslime bangsa adalah dengan berdoa bagi bangsa dan negara Indonesia agar sejahtera aman sentosa. Berdoa adalah nafas hidup orang percaya, berdoa adalah sarana berkomunikasi antara umat Allah dengan Allah Yang Maha Kuasa. Berdoa juga bukti kesetiaan orang percaya kepada Allah, dengan berdoa memulihkan hubungan Allah dengan umat-Nya.Tuhan Yesus selama hidup di dunia, Ia juga banyak memberikan teladan bagi kita untuk berdoa kepada Allah Bapa.

Mari ditengah-tengah kondisi yang sangat-sangat memprihatinkan, keadaan yang gonjang ganjing, grafik virus corona yang semakin naik angka kematian semakin meningkat, kita tidak dapat pergi kemana-mana, mari kita gunakan waktu kita untuk berdoa syafaat untuk pemulihan dan kesejahteraan bangsa negara.

MELAYANI DENGAN KESETIAAN

Kota efesus ada begitu banyak orang yang tinggal di sana. Latar belakang termasuk berbagai macam latar belakang keyakinan yang satu dengan yang lain berbeda dan  mereka  kemudian  menentukan  mana  yang  saya  suka  mana  yang  tidak

semata-mata semuanya itu ditentukan oleh diri mereka sebagai pribadi yang butuh ataupun tidak butuh. Jadi mereka menentukan apa yang mereka dengar dan apa yang tidak ingin mereka dengar dari dalam kondisi yang seperti itulah situasi sosial yang dihadapi oleh Timotius yang mempengaruhi juga kehidupan Kristen.

Kalau kita perhatikan kondisi sesungguhnya juga masih terjadi dalam kehidupan kita sampai hari ini. Bukankah dunia selalu sibuk dengan segala urusannya. Bukankah aktivitas manusia selalu dari satu peristiwa satu peristiwa yang lain tidak lagi ada waktu untuk merenungkan kebenaran firman Tuhan atau Untuk mengerjakan sesuatu yang kategorinya adalah pelayanan bagi sesama.

Begitu banyak urusan atau kepentingan ada begitu banyak kesibukan yang memungkinkan akan membuat seseorang di masa sekarang itu hanya memilih untuk mendengarkan apa yang baik bagi dia saja saya tidak peduli lagi. Apakah itu penting bagi orang lain di dalam kondisi yang seperti ini? Sama halnya dengan gereja saat ini, berbicara tentang sebetulnya pelayanan kita ini efektif atau tidak? Berapa banyakjemaat yang ikut ibadah online?

Pelayanan yang didalamnya termasuk adalah pemberitaan lnjil itu. Jadi kita perlu menjaga pengutusan Tuhan di dalam hidup kita. Untuk melanjutkan visi Kerajaan Allah adalah keselamatan bagi umat manusia yang diteruskan oleh para rasul yang kemudian juga diteruskan menjadi tugas gereja. Firman Tuhan berkata supaya kita memberitakan sampai ke ujung bumi jadikanlah semua bangsa itu, baptiskan ajarkan mereka supaya mereka pun percaya kepada Allah Bapa Putra dan Roh Kudus.

Mari kita tuntaskan tugas pelayanan itu sepanjang hayat kehidupan kita. Kita perlu melakukan tugas pelayanan di dalam kesetiaan Tuhan pada akhirnya sekalipun situasi dunia ini ribut dengan banyak pemberitaan dengan banyak tantangan dengan banyak pergumulan dengan banyak hal yang membuat hati mundur atau bertahan atau kemudian kehilangan semangat untuk terlibat di dalam pelayanan biarlah melalui apa yang kita renungkan pada pagi hari yang pertama kita harus belajar menguasai diri kita menguasai hati kita senantiasa menjaga persekutuan dengan Tuhan maka kita akan dimampukan terus memiliki semangat untuk melayani dia

PENDERITAAN YANG MENUMBUHKAN KESETIAAN

Topik tentang penderitaan selalu menjadi isu perdebatan sepanjang jaman, karena penderitaan merupakan fakta yang sangat dekat dengan kehidupan manusia dan menyentuh semua orang tanpa batasan. Banyak orang terus bergumul untuk menjelaskan keberadaan penderitaan dalam hidup manusia. Setiap manusia dalam hidup pasti akan mengalami pasang surut kehidupan, tanpa terkecuali. Dalam kondisi baik tentu bukan masalah bagi semua orang, seringkali masalah banyak muncul ketika dalam kondisi yang tidak baik, ada yang kehilangan gairah untuk hidup, ada orang kemudian mencari kambing hitam atas apa yang mereka alami.

Dalam kehidupan kita Tuhan memakai peristiwa sehari-hari untuk membentuk kita dan menjadikan kita semakin bertumbuh dalam kedewasaan dalam Tuhan. Termasuk Penderitaan juga dapat dipakai oleh Tuhan untuk memproses hdup kita untuk bertumbuh secara rohani. Tentu penderitaan bukan kata yang menyenangkan untuk dibayangkan. Bahkan sebagian dari doa-doa kita berisi permohonan mengenai kesehatan, berkat, perlindungan, dan penyertaan Tuhan, yang bila direnungkan lebih dalam, tujuannya adalah agar diluputkan dari penderitaan. Namun kenyataannya… kesedihan, kegagalan, kehilangan, dan berbagai hal yang dikonotasikan sebagai penderitaan akan selalu menjadi bagian dari kehidupan kita.

Melalui 2 Timotius 3 : 10-17 kita dapat belajar :

  1. Melihat penderitaan dari sudut pandang Allah. (ayat 10)
    Pertumbuhan terjadi ketika kita belajar dan menanggapi dengan benar terhadap pembentukan Tuhan dalam setiap situasi yang kita hadapi.

Rasul Paulus mengalami menunjukkan bagaimana dia dapat bertahan dalam setiap penderitaan yang dialami karena dia melihat setiap penderitaan dari sudut pandang Allah, dalam Roma 8:28-29 Paulus menulis…Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.

  1. Berpegang pada kebenaran Firman Allah (ayat 14-15)
    Apapun yang kita hadapi, jangan pernah melepaskan kebenaran Firman TUHAN. Bahkan lebih dari itu, jangan pernah melepaskan imanmu untuk apapun yang ditawarkan dunia, karena dunia ini akan menjadi semakin sesat, tersesat dan disesatkan (ayat 13). Pandanglah kepada kebenaran Firman TUHAN, hiduplah intim dan dekat dengan TUHAN, maka biarpun badai terjadi maka dapat berjalan diatas air bersamaNya.

Firman TUHAN diberikan kepada kita sehingga kita tahu apa yang salah, bagaimana memperbaiki kelakukan dan mengajar kita untuk selalu hidup dalam kebenaran. Ini sangat berbeda dengan cara dunia yang segala sesuatunya bersifat “instan”. Pengajaran Firman TUHAN akan membawa dampak yang kekal bagi kehidupan kita.

Jadi, penderitaan apa pun yang saat ini sedang anda hadapi dan alami, percayalah bahwa Anda tidak sendiri, semua orang di muka buni ini mengalami penderitaan yang sama seperti yang Anda alami. Selanjutnya, sadarilah bahwa Tuhan senantiasa ada bersama kita, menemani kita dan peduli kepada kita. Melalui penderitaan yang kita alami akan membawa

SIAP MENDERITA

Mengikut Yesus adalah keputusanku, tema ini menjadi intropeksi diri kita masing-masing. Apa mengikut Yesus sudah benar-benar keluar dari hati yang terdalam? Bukan hanya sekedar dari mulut dan lewat pujian saja, tapi itu keluar dari hati yang paling dalam dengan kepercayaan yang sungguh-sungguh.

Dimulai dari hal yang kecil ketika kita bangun pagi, tentu kita dihadapkan pada pilihan apa saja yang kita kerjakan sepanjang hari. Demikian juga kita dalam memilih pasangan, tentu kita akan memilih yang terbaik. Mengapa demikian? Karena pilihan itu akan menentukan harapan dan masa depan. Apabila kita salah memilih maka akan berpengaruh ke depannya.

Maka saat ini, kita diharapkan untuk mengambil pilihan yang pasti yang sesungguhnya dalam hidup kita. Tuhan Yesus tidak melihat kita dari seberapa lama kita menjadi orang percaya, berapa banyak kita melayani-Nya, berapa banyak kita memberikan persembahan.

Tuhan Yesus sendiri telah menyampaikan bahwa mengikut-Nya bukan berarti kita bisa hidup dengan senang-senang saja. Tuhan Yesus datang ke dalam dunia, bukan untuk memberi kita kekayaan. Karena mungkin saat ini banyak orang yang mengikut Yesus karena mengharapkan hal-hal yang lebih.

Tuhan Yesus menginginkan kita untuk mementingkan Dia lebih dari segala-galanya. Mengikut Tuhan, jangan pernah melihat ke belakang lagi. Karena barangsiapa yang sudah mengikut-Nya tetapi menoleh ke belakang, ia tidak layak untuk kerajaan Allah. Jangan melihat kegagalan kita di masa lalu, dan fokuskan diri hanya kepada Yesus saja. Karena orang yang jalan dan melihat ke belakang, sesungguhnya hatinya ada di belakang sana.

Mungkin kita dulu adalah hamba dosa, maka mari saudara kita minta pertolongan Tuhan supaya kita bisa mengikut Tuhan dengan sungguh-sungguh dan beranjak dari masa lalu. Dan berfokus pada Tuhan serta masa depan yang Tuhan siapkan untuk kita.